Saturday, November 06, 2010

Upacara Pelebon Terbesar yang Terlewatkan

Perjalanan saya sebagai petualang ACI di Bali memang sudah berakhir 17 Oktober lalu, tapi keindahan pulau Dewata tetap terngiang di kepala saya. Bali memang memiliki magis tersendiri yang selalu aja berhasil membuat saya ingin kembali lagi berkunjung ke sana, berkali-kali...

Seperti yang terjadi hari ini, hasrat itu muncul ketika saya singgah ke Indonesia.Travel, blog tentang traveling di Indonesia. Di situ dikatakan tanggal 2 November kemaren, baru aja terselenggara perhelatan terbesar di Bali, tepatnya di Peliatan, Ubud. Sebuah upacara Palebon atau yang lebih dikenal dengan sebutan Ngaben untuk raja Peliatan Bali. Mengetahui hal itu, ada suatu penyesalan di dalam diri saya, kenapa saya telat mengetahuinya?! Ngaben yang biasa aja saya belum pernah liat, tapi ini adalah ngaben raja! Kebayang gimana megah dan indahnya upacara tersebut. Ahhh...coba saya bisa memutar waktu dan kembali ke sana...

Naga Banda lambang kremasi kerajaan

(klik judul untuk baca lebih lengkap)
Tersebut di dalam website Indonesia.Travel, Pelebon terhadap Raja Peliatan IX, Ida Dwagung Peliatan yang terselenggara di Puri Agung Peliatan, Ubud, Bali, mampu menarik ribuan mata para turis baik lokal maupun mancanegara, bahkan para penduduk setempat yang ingin mengantarkan kepergian sang Raja. Persiapan upacara yang memakan waktu berbulan-bulan dan biaya hingga milyaran rupiah ini, bersimbol pada pengusungan Naga Banda Pelebon yang merupakan lambang kremasi kerajaan untuk membawa arwah menuju nirwana. Kemegahan upacara tersebut juga dapat terlihat dari besarnya Bade. Kalau rakyat biasa memakai bade bertingkat satu atau tiga, dan keluarga kerajaan non Raja memakai bade bertingkat tujuh atau sembilan, nah dalam Palebon Raja Peliatan ini, bade yang digunakan bertingkat sebelas dengan total tinggi 25,5 meter! Bade merupakan tempat pengusungan jenazah yang disandangkan dengan sebuah replika lembu berwarna putih. Berat total keseluruhan bade termasuk replika lembunya mencapai 11 ton yang pada puncak acaranya diusung oleh 300 orang dari 35 banjar di sekitar Ubud. Simbol-simbol tersebut akan dibakar beserta jenazah dengan harapan dapat membawa sang arwah menuju nirwana dan kehidupan reinkarnasi yang lebih baik lagi. Makanya tidak ada kesedihan dalam upacara ini, sebab ini bukan upacara kematian, melainkan upacara perayaan kehidupan yang lebih baik. Karena itu, segala macam persiapannya harus dilakukan sebaik mungkin. 

Replika lembu dengan detail yang begitu indah

Suka cita dan rentetan pertunjukan kesenian tradisional Bali, sengaja dipertunjukan dalam rangka Palebon ini. 3 hari perayaan kesenian diselenggarakan di Puri Agung Peliatan yang melibatkan ratusan seniman Bali. Jelas ini menjadi daya tarik luar biasa bagi para turis. Dan sekali lagi, saya menyesal tidak dapat bergabung menyaksikan keindahan budaya Bali yang sesungguhnya. Sepertinya harus menunggu 30 tahun lagi untuk dapat menyaksikan acara yang sama >_<. 

Tidak mau ketinggalan informasi penting seperti ini lagi, rasanya saya memang harus sering-sering mampir ke Indonesia.Travel. Saya yang selalu berhasrat bisa mengelilingi Indonesia dan melihat keindahan alam dan budaya negeri ini, merasa amat sangat bersyukur dengan adanya website seperti itu. Meski saya tidak bisa menyaksikan Pelebon secara langsung, tapi website itu sudah berhasil membuat saya seakan berada di sana dan membayangkan keindahan serta keagungan budaya Bali tersebut.

2 comments:

Yunaidi Joepoet said...

great tante, sayang saya ndak bisa nyaksiin ini pas disana kemarin :)

Rini said...

Sama nih yud.. Nyesel banget ngelewatin acara ini. Ngabennya RAJA!!!

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...