Monday, February 04, 2013

Melancong Berbadan Dua

Siapa bilang ibu hamil gak bisa traveling? Bisa aja, asaaaalll...tau kondisi!

Emang dasar gatel kalo diem aja, meski hamil, dulu saya tetep aja traveling, melakukan hobi dan olahraga seperti biasanya. Tapi emang gak bisa seekstrim waktu berbadan satu, alias gak bunting sih. Cuma lumayan lah masih bisa beraktivitas seperti biasa. Untungnya kehamilan saya terbilang aman, ga pake mun-mun. Yaa...morning sickness adalah sesekali, tapi selebihnya santai...

Jadi tips yang bisa saya share kalo emang bumil masih pengen jalan-jalan sih...
Pertama...jangan manja! Lah udah tau lagi hamil tapi tetep kekeh mau jalan-jalan ya terima resikonya, jangan manja di tengah jalan, nyusahin orang lain. Tapiii...juga jangan sok kuat, harus tau lah batasannya.

Kedua...wajib makan makanan yang sehat. Kalo akan pergi ke suatu tempat yang kira-kira kurang terjamin makanannya, mending bawa dari rumah. Itu udah paling aman. Dulu waktu usia kandungan saya 5 bulan dan sempet ikut kemping ke pulau semak daun, saya nyiapin sereal bergizi, susu, plus buah-buahan yang banyak. Meskipun kalo kemping gitu godaan makan mie instan menyerang, tapi demi si baby, harus bisa menolak.

Ketiga...jangan sampai dehidrasi. Sering-sering minum lah. Nah paling enak kalo lagi traveling trus bisa nyobain air kelapa fresh langsung metik dari pohonnya. Mantaaapp:D Apalagi kalo abis jalan jauh, panas, keringetan...minum air kelapa seger rasanya dah kayak di surga!

Keempat...jangan banyak bawa bawaan.. Jangan bawa berat juga. Jujur sih, pengalaman saya rada ekstrim sebenernya. Waktu usia kandungan 7 minggu, saya masih diving. Sebelumnya emang udah konsul ke beberapa instruktur, ada yang pro dan kontra. Tapi saat itu rasional saya mengatakan...diving sama kayak berenang, bedanya ada tekanan dan kesulitan menggunakan alat-alatnya yang berat. Akhirnya solusi saya waktu itu, biar gak berat, saya pakai alatnya di dalam air. Dan saya menyelam tidak lebih dari 10 meter atau 1 atmosfer. Alhamdulillah semua aman...meski emang ada kesulitan pengaturan bouyancy, tapi selebihnya baik-baik aja. Terutama setelah liat keindahan bawah laut yang menyejukkan:)

Kelima...do it with fun! Kalo gak enjoy, ya ngapain dilakuin. Mending istirahat di rumah:D

Oia...tips satu lagi, kalo emang bepergian menggunakan pesawat, sebelumnya mending priksa dulu ke dokter kandungan biar aman. Ngecek apa kandungannya baik-baik aja dan cukup kuat untuk diajak jalan-jalan. Skalian minta surat keterangan dari dokter, karena maskapai penerbangan biasanya akan menanyakan surat keterangan itu.

Rafting pas hamil 2 bulan.  Untung jeramnya  ga sadis, jadi masih aman:)

Siap-siap snorkling. Si baby seneng banget waktu gw snorkling:)

Pas hamil 7-8 bulan, kandungan udah makin besar, tapi hasrat jalan-jalan juga besar:D

Beramah tamah dengan penduduk desa Tenganan-Bali, alhamdulillah dapet suguhan air kelapa:)

Bangga banget bisa ketemu, ngobrol, dan foto sama bapak Wayan, penulis daun lontar

Gak tau knapa, tapi ngidam banget foto di pinggir sawah. di Solo.

Sunday, February 03, 2013

New Adventure in Life

Kalau ditanya apa sih yang bikin hidup lu menarik? gw akan menjawab...petualangan dalam mencari sesuatu yang gw suka, sesuatu yang bisa bikin hati gw tersenyum, suatu kebahagiaan dalam hidup. Dan sesuatu itu akan berbeda-beda di tiap individu.

Dulu gw mencari kebahagian ke mana-mana... mulai dari musik, makan, berteman, jalan-jalan, sampai ke dasar lautan. Kebahagiaan itu gw kenali satu persatu, sampai... hidup membawa gw ke satu titik. Titik di mana petualangan akan pencarian kebahagiaan itu berubah haluan ke sebuah tempat yang tidak pernah terbayangkan akan membuat hidup gw berubah selamanya, sebegitu indah dan bahagianya. Tempat itu adalah rumah. Rumah yang kini sudah dihiasi oleh tawa dan candaan seorang bocah kecil bernama Áradhana Lankabhumi Santoso'.

Kini petualangan hidup gw berubah, dari petualangan fisik menjelajahi tempat yang berbeda-beda, ke petualangan emosional dalam hidup. Inilah petualangan baru dalam hidup seorang Turis Gembel dalam statusnya menjadi seorang ibu. Petualangan yang memberikan banyak pembelajaran hidup dan kesabaran dalam artian sebenarnya. I enjoy this new adventure in my live:)



Thursday, February 02, 2012

Indonesia loh!: Fusion Cardboard

Ini salah satu contoh daur ulang yang simpel dan keren. Kerennya karena ada sentuhan batik, bikin lebih Indonesia banget! Dan gw juga suka copy penjelasannya di tag cardboard itu.

Indonesia loh!: Fusion Cardboard: Available at : toimoi Mansion The Manssion Kemang Jl. Kemang Raya 3-5 Jakarta Selatan dia.lo.gue Kemang Selatan 99 A Jakarta...

Wednesday, August 03, 2011

Sang Legendaris, Penulis Daun Lontar, I Wayan Muditadnana



Siang sudah menjelang, desa Tenganan baru saja menyelesaikan jamuan makan siang bersama di balai desa. 100 meter dari balai desa tersebut, terdapat sebuah rumah dari sang legendaris I Wayan Muditadnana. Di sela-sela waktu istirahatnya, beliau menyempatkan diri berbincang bersama Tim Bali.

Sosoknya yang renta dengan rambut putih menghiasi mahkota kepalanya, Pak Wayan, 79 tahun, masih kuat berjalan mengeliling desa. Ingatannya masih tajam, hasrat keingintahuannya begitu besar jika menyangkut tentang sejarah kerajaan kuno Indonesia ataupun kesusastraan bahasa-bahasa kuno seperti Sansekerta, Kawi, maupun bahasa Bali kuno. Beliau memang satu-satunya sosok yang menguasai sepenuhnya ketiga bahasa tersebut di dunia. Pemahaman akan bahasa kuno itu merupakan modal beliau dalam menoreh tulisan di lembar daun lontar.

Setiap hari mulai pukul 3 pagi, beliau duduk di pojokan teras rumah, memulai ritual penulisan daun lontar. Yang ia tulis merupakan Wira Cerita Ramayana maupun Mahabarata. Perlu waktu setidaknya 5 bulan untuk dapat menyelesaikan cerita tersebut. Begitu cerita terselesaikan, selalu saja ada orang yang berniat membelinya dengan harga berapapun yang ia minta. Keinginannya untuk memiliki sendiri mahakarya buatannya, tidak pernah dapat terpenuhi. Meski demikian, karya-karya beliau sudah terpampang di museum-museum di seluruh dunia.

Sambil memperagakan cara penulisan di daun lontar, beliau bercerita bahwa perlu waktu 30 tahun untuknya mempelajari semua ilmu yang diperlukan untuk keahlian ini. Tidak hanya cara menoreh yang benar di daun lontar, tapi juga mempelajari secara mendalam kesusastraan Sansekerta, Kawi, dan Bali kuno. Sama halnya membuat kaligrafi, penulis daun lontar perlu mempelajari seni menulis indah. Lebih sulit lagi karena bidang daun lontar tidak seperti kertas, ia harus menorehnya dengan alat yang disebut pengrupak. Huruf-huruf yang tertoreh pun disesuaikan dengan ukuran daun lontar. Kecilnya media penulisan dan huruf yang rumit, menjadi tantangan tersendiri bagi para penulis daun lontar. Dari hasil torehan pengrupak itu, kemudian diberi kemiri yang sudah dibakar untuk membuat warna hitam pada tulisan.

Penulis daun lontar sebenarnya ada banyak di Bali, tapi yang benar-benar mempelajari makna dan filosofi dari setiap huruf Sansekerta dan Kawi yang tertoreh dalam daun lontar dan mengetahui secara mendalam kesusastraan bahasa tersebut hanyalah Pak Wayan seorang. Beliau amat senang jika ada seseorang yang hendak berguru padanya. Dulu ia memiliki banyak murid, hanya saja ditengah perjalanan murid-muridnya berguguran. Mempelajari bahasa-bahasa kuno memang memerlukan waktu yang lama dan kesabaran yang tinggi. Hingga kini, ia berusaha mewariskan keahliannya pada sang anak. Mengingat usianya yang sudah tidak muda lagi, besar harapan beliau taruhkan pada sang anak untuk meneruskan keahliannya demi penerusan warisan budaya kuno Indonesia.

Sejenak ia masuk ke dalam rumah, mengambil hasil karyanya yang sudah dipesan oleh seseorang dari Jakarta. Beliau membuka ikatan pada daun lontar tersebut dan membacakan apa yang tertulis di dalam. Terdengar alunan indah seperti sebuah nyanyian, nada-nada khitmah keluar dari mulut sang penciptanya. Bahasa kuno itu terdengar begitu indah dan memesona. Beliau mengatakan, bahasa Sansekerta tidak hanya rumit dalam hal penulisan, tapi cara membacanya pun harus diperhatikan lekukan-lekukan nada dan panjang kecil hurufnya. Sama seperti membaca Al-Qur’an, kitab suci umat Islam. Bahasa Sansekerta pun seperti itu. Tidak bisa dibaca biasa tanpa nada seperti bahasa latin.

Tamu-tamu terhormat dari seluruh dunia, pernah mendatangi beliau di rumahnya. Mereka semua hendak bertemu muka dengan sang legendaris yang karya-karyanya bisa disejajarkan dengan pelukis terkenal Michaelangelo. Mereka mau bersusah payah datang ke Bali, memasuki desa Tenganan hanya untuk bertemu dengan beliau. Pak Wayan memang berprinsip tidak akan keluar dari rumahnya. Yang berkepentingan, harap datang ke rumahnya di Tenganan. Beliau tidak ingin meninggalkan kampung halaman, ada rasa tanggung jawab dengan apa yang terjadi di kampung halamannya. Seandainya penduduk desa ataupun orang di luar desa Tenganan yang memerlukan bantuannya tapi beliau tidak ada di tempat, rasa bersalah akan terus menyelimutinya. Pak Wayan memang menjadi orang yang dituju oleh seluruh penduduk Bali di desa lain jika mereka ingin mengarsipkan kembali hukum-hukum adat desa mereka. Jasanya sudah amat besar bagi pelestarian budaya Bali itu sendiri.

Menutup akhir perbincangan, beliau masih menaruh harapan besar ada penerus yang mau mengikuti jejaknya. Sosok seperti beliau merupakan harta yang tak ternilai harganya bagi pelestarian budaya kuno Indonesia. Harapan beliau menjadi harapan besar kami semua.

Dan hari itu, 13 Oktober 2010, berakhir dengan pertunjukan keahlian lain seorang I Wayan Muditadnana sebagai seorang dalang dan pemusik Gendar Wayang.



Text by: Dwi W Saptarini
Photo by: Yunaidi Joepoet

Wednesday, January 05, 2011

Senja di Kebun Rumput Laut Timbis

Kebun rumput laut yang berjarak 7 meter dari bibir pantai. Photo copyright of Yunaidi Joepoet

Sore itu kala matahari akan tenggelam, beberapa petani rumput laut masih tampak sibuk memanen di tengah laut. “Mumpung airnya surut, bentar lagi air akan pasang” tutur Pak Suwandi salah satu petani di sana.

Pantai Desa Kutuh, Kuta Utara, Bali atau yang lebih dikenal dengan sebutan pantai Timbis, memang salah satu desa penyuplai eksport rumput laut terbesar di Bali ke Cina. Usaha ini sudah dilakukan sejak tahun 1985 tapi baru lebih berkembang lagi sekitar tahun 1997. Saat ini Desa Kutuh sudah lebih sejahtera berkat budidaya rumput lautnya.

Ditemani derunya ombak laut yang pecah di tengah karena karang penghalang, para petani itu tampak khitmah melakukan ritual mereka sehari-hari. Bibit rumput laut yang sudah mereka tanam di laut, setelah 45 hari berlalu kini sudah dapat dipanen. Rumput laut yang masih basah itu kemudian dijemur di pinggir pantai selama kurang lebih 3 hari, tergantung cuaca, sampai benar-benar kering dan berubah warna dari hijau ke kuning keputihan. “Kalau sudah kering, biasanya kami simpan sampai pasokan rumput lautnya banyak, baru 2 bulan sekali kami jual ke pemasok” kata Pak Suwandi sambil terus mengayuh kapal sederhananya menuju petak perkebunan rumput laut miliknya. 

(klik judul untuk baca lebih lengkap) 

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...